Hidup itu...

Hidup sebaiknya tak hanya minum air, bolehlah kita minum yang lebih manis..

Golden Sunrise, Sanur, Bali

Golden Sunrise, Sanur, Bali

Suatu Pagi di Sanur, Bali

Suatu Pagi di Sanur, Bali

Senja di Parangtritis

Senja di Parangtritis

Salah satu prajurit yang bertugas meniup seruling mengiringi defile prajurit Keraton Yogyakarta di Grebeg Maulud 2013

Salah satu prajurit yang bertugas meniup seruling mengiringi defile prajurit Keraton Yogyakarta di Grebeg Maulud 2013

Let me go home…

Parangtritis, Yogyakarta

Let me go home…

Parangtritis, Yogyakarta

Para Pengusung Gunungan di Grebeg Maulud

Para Pengusung Gunungan di Grebeg Maulud

Salah satu sudut Pasar Triwindu, Solo

Salah satu sudut Pasar Triwindu, Solo

2012

Tahun 2012 hampir berakhir. Bagi saya, tahun 2012 ini adalah tahun belajar. Banyak hal yang saya dapatkan selama satu tahun, bermacam-macam. Semuanya begitu berarti, memberi masukan untuk kehidupan ke depan. Ada yang manis pun juga ada yang pahit, inilah hidup.

Di awal tahun, kakak menikah. Disini saya mengerti bagaimana ribetnya mengurus acara sebesar itu, walaupun tidak mewah tetap saja itu adalah ‘hari besar’ bagi keluarga kami. Saya bisa melihat bagaimana Ibu saya adalah pengorganisir yang juara. Dari A sampai Z sepertinya semua diaturnya. Saya begitu kagum dengan beliau. Acara lancar tanpa kendala berarti. Selang 9 bulan kemudian, lahirlah keponakan, awal munculnya generasi kedua di keluarga kami. Dan dia perempuan, begitu spesial mengingat saya dan kakak saya tidak memiliki saudara perempuan.

Pelajaran berikutnya datang ketika naik ke gunung yang banyak orang mengatakan adalah gunung terindah di Indonesia, Gunung Rinjani. Sebelumnya saya belum pernah mendaki gunung dengan ketinggian lebih dari 3500mdpl, dan Rinjani ini memiliki ketinggian 3726mdpl. Sangat berat, apalagi ketika berjalan menuju puncak harus menghadang hujan, tapi Alhamdulillah semua itu bisa dihadapi. Sebenarnya bukan itu rintangan yang paling besar, tapi ego diri sendirilah yang paling susah ditendang. Itu adalah kata-kata klise, tapi saya benar-benar merasakannya, ketika asa hampir habis dan semangat begitu menipis, janganlah berhenti melangkah meski dengan langkah yang sangat pelan karena dengan melangkah itu artinya kita masih berharap dan masih hidup, jika harapan saja sudah musnah apalah arti hidup. Di Rinjani pula saya begitu terpukau dengan pesona Segara Anak. Menakjubkan. Tak henti-hentinya menyebut nama Allah dan selalu bersyukur atas limpahan yang telah diberikan. Sungguh mengunjungi tempat-tempat yang indah itu akan menambah rasa syukur kita terhadap karunia yang telah Tuhan berikan.

Traveling sendirian ke Dieng adalah pelajaran berikutnya yang begitu berharga. Bepergian jauh tanpa teman berdiskusi menjadi hal yang sangat baru bagi saya. Semua hal direncanakan sendiri, ini itu, segala hal tetek bengek diputuskan tanpa perlu berdiskusi dengan orang lain, belajar jadi orang yang bisa memutuskan. Tapi ketika sendirian itu pula saya bisa mengenal orang-orang baru. Di Dieng saya menginap di rumah penduduk yang begitu baik, sangat baik padahal baru bertemu saat itu. Seandainya semua orang berbaik hati seperti dia, pastilah negeri ini begitu damai.

Selanjutnya pulang dari Dieng mengendarai motor melewati hutan lebat di daerah antah berantah. Sepi sekali, jalanan rusak berkelok-kelok dan naik turun, sinyal handphone hilang dan jalan yang ditempuh begitu panjang. Saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saja ada kerusakan dengan motor saya. Sepanjang jalan hanya bisa berdoa, ahh memang manusia saat dalam masa kritis saat itu pula dia mengingat Tuhannya. Saya menyadari bahwa jalanan begitu memberi pelajaran. Kita harus melewati jalan yang panjang untuk sampai ke tujuan, entah itu rusak atau mulus. Ketika sampai tujuan (tempat) belum tentu tujuan (maksud) kita tercapai, tapi setidaknya kita telah berusaha.

Ditahun ini pula saya mulai rajin menulis. Diawali korespondensi dengan sebuah website travel yang meminta tulisan saya boleh dipublikasikan di websitenya atau tidak. Dari situ saya merasa bahwa ternyata ada yang menghargai tulisan saya, hal yang selanjutnya memacu saya untuk lebih serius belajar menulis, mengingat selain saya juga ada nama-nama besar di dunia traveling yang tulisannya juga ‘diminta’ oleh webiste itu. Dan di waktu yang hampir bersamaan juga kenal dengan awak majalah The-Travelist, dari sana banyak belajar tentang penulisan di dunia travel writing. Dijejali berbagai macam jenis tulisan travel, cara menulis dan cara jadi editor. Ahh saya mulai mencintai dunia yang satu ini.

Masih banyak pelajaran yang saya terima di tahun ini, semuanya membuat saya semakin bersyukur. Tahun depan semoga saya dapat belajar lebih banyak lagi dan saya harus berusaha keras untuk itu. Dan tahun depan haruslah lebih baik dari tahun ini. Amin

a beautiful morning at Gili Trawangan

a beautiful morning at Gili Trawangan